Selamat Datang di Website Resmi Sumber Waras Training Center
Berita Kesehatan

Membangun Generasi Sehat di Era Digital: Peran Vital Literasi Kesehatan

📅 15 Oct 2025 🏷️ Berita Kesehatan, Riset & Inovasi
Membangun Generasi Sehat di Era Digital: Peran Vital Literasi Kesehatan
Membangun Generasi Sehat di Era Digital: Peran Vital Literasi Kesehatan

Di era digital, arus informasi kesehatan meningkat secara eksponensial. Media sosial, blog kesehatan, dan video edukatif di YouTube menjadi sumber utama bagi banyak anak muda dalam mencari informasi tentang gaya hidup sehat. Namun, tidak semua informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Menurut World Health Organization (2023), literasi kesehatan merupakan kemampuan individu untuk “mengakses, memahami, menilai, dan menggunakan informasi kesehatan dalam rangka membuat keputusan yang tepat guna memelihara dan meningkatkan kesehatannya.” Artinya, tantangan utama generasi muda bukan hanya mendapatkan informasi, tetapi menyaring dan memverifikasi kebenaran informasi yang mereka konsumsi. 

 

Konsep literasi kesehatan digital (digital health literacy) menjadi sangat penting dalam konteks ini. Menurut Norman dan Skinner (2022), literasi kesehatan digital mencakup keterampilan teknis, kognitif, dan sosial untuk mencari, mengevaluasi, serta menggunakan informasi kesehatan yang bersumber dari teknologi digital. Mereka menegaskan bahwa tanpa kemampuan tersebut, masyarakat mudah terjebak dalam “infodemic”, yaitu melimpahnya informasi yang salah atau menyesatkan tentang kesehatan. 

 

Dalam konteks anak muda, risiko ini semakin besar karena media sosial menjadi sumber utama rujukan kesehatan mereka. Hasil penelitian Van Kessel et al. (2022) menunjukkan bahwa literasi kesehatan digital berperan sebagai super determinant of health — faktor kunci yang mempengaruhi perilaku kesehatan masyarakat modern. Mereka menegaskan bahwa individu dengan literasi digital tinggi cenderung lebih aktif dalam perilaku pencegahan, seperti menjaga pola makan, olahraga teratur, dan pemeriksaan kesehatan rutin. 

 

Sebaliknya, mereka yang rendah literasi digital lebih mudah termakan hoaks kesehatan, seperti mitos diet ekstrem atau obat herbal tanpa bukti ilmiah. Selain itu, Fitzpatrick et al. (2023) mengungkapkan bahwa komunikasi digital berbasis bukti memiliki potensi besar dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. Mereka menyatakan bahwa “digital communication tools have substantial potential to improve health literacy and health outcomes when designed with accessibility and evidence-based content.” Pernyataan ini menegaskan pentingnya keterlibatan pakar kesehatan dalam pembuatan konten digital agar tidak sekadar menarik, tetapi juga mendidik. Dalam konteks generasi muda, UNESCO (2020) menyebut bahwa platform digital telah menjadi “ruang belajar informal” bagi remaja mengenai isu kesehatan fisik dan mental. 

 

Namun, UNESCO juga memperingatkan bahwa tanpa bimbingan literasi, anak muda rentan meniru perilaku tidak sehat dari influencer yang tidak memiliki latar belakang medis. Oleh karena itu, pembelajaran literasi digital harus dimulai sejak sekolah menengah dan perguruan tinggi. Literasi tidak hanya sebatas membaca informasi kesehatan, tetapi juga kemampuan mengevaluasi sumber dan memahami dasar ilmiahnya. Ban (2024) menambahkan bahwa literasi kesehatan digital bukan sekadar kemampuan teknis menggunakan internet, melainkan juga melibatkan kesadaran kritis terhadap bagaimana algoritma bekerja dalam menyebarkan informasi. Ia menulis bahwa “algorithms on social media platforms can amplify misinformation, making digital literacy a protective factor against false health claims.” Dengan kata lain, memahami cara kerja algoritma menjadi bagian penting dari keterampilan kesehatan modern. Tantangan dalam membangun generasi sehat di era digital tidak hanya berasal dari individu, tetapi juga sistem. 

 

Menurut penelitian WHO (2022), terdapat kesenjangan besar dalam akses terhadap teknologi dan informasi di negara berkembang. Kesenjangan digital ini menciptakan ketimpangan literasi kesehatan, di mana kelompok masyarakat dengan akses internet terbatas memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit karena kurangnya informasi akurat. Oleh sebab itu, kebijakan nasional yang mendukung pemerataan infrastruktur digital sangat penting. Dari sisi pendidikan, Kementerian Kesehatan Indonesia (2023) juga menegaskan perlunya integrasi literasi kesehatan digital ke dalam kurikulum sekolah dan perguruan tinggi. Pendidikan tidak hanya mengajarkan teori kesehatan, tetapi juga keterampilan memfilter informasi. Misalnya, siswa perlu diajarkan bagaimana mengenali situs web yang kredibel, memahami referensi ilmiah, dan membedakan opini pribadi dari bukti empiris. Program seperti ini telah terbukti efektif di beberapa negara Skandinavia dalam meningkatkan kesadaran kesehatan di kalangan remaja. 

 

Di Indonesia, tantangan literasi digital semakin kompleks karena adanya faktor budaya, bahasa, dan sosial. Banyak anak muda lebih percaya pada rekomendasi teman sebaya atau influencer daripada dokter atau jurnal ilmiah. Menurut penelitian Handayani et al. (2021), perilaku ini disebabkan oleh kepercayaan sosial (social trust) yang tinggi terhadap komunitas daring. Maka dari itu, strategi komunikasi kesehatan perlu beradaptasi dengan tren media sosial dengan tetap mempertahankan integritas ilmiah. 

 

Program literasi kesehatan digital yang efektif perlu memperhatikan beberapa prinsip utama. Pertama, pendekatan co-design, yaitu melibatkan anak muda secara langsung dalam merancang konten kesehatan agar lebih relevan dan menarik. Kedua, penggunaan multimodal learning, misalnya melalui video pendek, infografis, dan aplikasi interaktif. Ketiga, pembentukan kompetensi meta-kritis, yaitu kemampuan untuk menilai keabsahan data sebelum membagikannya. Keempat, evaluasi berkala untuk memastikan dampak program terhadap perubahan perilaku.

Layanan 24 Jam